- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Medical Health Online
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Rp 60.000
Add to cart
Spesifikasi Barang :
| Buku | Agama |
| Ukuran Berat | 1 kg |
| Stock | Ready |
| Jenis | Baru / |
| Warna | - |
| Harga | Net |
ISLAM LIBERAL ; Varian-Varian Liberalisme Islam di Indonesia Penulis : Dr. Zuly Qodir
Penerbit : LKIS
Tahun : 2010
Kota : Yogyakarta
Jenis kertas : HVS
Kategori : Kajian Keislaman
Tebal : 310 hal
Ukuran : 15 x 21 cm
Harga : 60.000
Pada beberapa dekade terakhir ini, gerakan pemikiran Islam Indonesia telah mengalami perubahan dan perkembangan yang cukup signifikan. Ini dibuktikan dengan banyaknya karya ilmiah yang ditulis oleh para ilmuwan dan peneliti, baik dari kalangan Indonesia sendiri maupun dari luar. Namun, diantara gerakan pemikiran Islam Indonesia yang paling mendapat sorotan tajam dari pelbagai lapisan masyarakat adalah gerakan Islam liberal.
Seperti jamak diketahui, isu Islam liberal merupakan isu “seksi” sekaligus kontroversi. Isu ini dibilang “seksi”, karena para pegiatnya mampu memberikan stimulus pada masyarakat Indonesia agar senantiasa berpikir kritis dalam memahami teks-teks keagamaan yang ada. Dan, dibilang kontroversi, lantaran gerakan pemikiran Islam liberal ini senantiasa membuat “fatwa-fatwa” kontroversial dalam memahami dan menafsirkan teks-teks keagamaan yang ada.
Konon, isu ini sengaja dihadirkan para intelektual muslim Indonesia dalam rangka untuk membaca, memahami, sekaligus menyegarkan kembali pemikiran masyarakat Islam Indonesia yang telah lama ‘tidur pulas’, karena terlalu “mengimani” teks-teks keagamaan yang ada. Sehingga akibatnya taklid buta dan fanatisme pun tak bisa dihindarkan lagi.
Oleh karena itu, hadirnya buku berjudul Islam Liberal, Varian-varian Liberalisme Islam di Indonesia 1991-2002 yang ditulis oleh Zuly Qodir ini hendak “membongkar” paradigma muslim Indonesia yang masih cenderung literalis-konservatif. Selain itu, lewat buku ini, Zuly juga ingin mendedahkan fenomena muncul dan berkembangnya gerakan pemikiran Islam Liberal di Indonesia dalam rentangan waktu antara tahun 1991-2002.
Lebih lanjut, dalam menganalisa data terkait gerakan pemikiran Islam Liberal di Indonesia, Zuly menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan sebagaimana yang telah dipopulerkan Peter L. Berger dan Thomas Luchman. Pendekatan ini dipilih karena lebih pas dan cocok dalam menekuni hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial dimana pemikiran itu timbul (hal. 15).
Varian Islam Liberal
Secara lebih khusus, dalam buku ini, Zuly Qodir mengelaborasi ihwal tipologi Islam Liberal di Indonesia yang terbagi atas empat varian, yakni liberal-progresif, liberal-radikal, liberal-moderat, dan liberal transformatif.
Pertama, liberal-progresif. Tipologi ini cenderung merujuk pada perhatian intelektual muslim terhadap kondisi kultural yang ada, baik dalam bidang politik, keagamaan, keadilan sosial, keadilan gender, dan pluralisme. Sehingga, tipologi ini bisa dikatakan sebagai representasi dari aktor-aktor Islam yang pernah merasakan betapa gelapnya masa depan Islam Indonesia, ketika kondisi negara kian bergejolak dan represif terhadap umat Islam. Adapun tokoh-tokoh yang masuk dalam kategori ini adalah Imaduddin Abdurrahim, Adi Sasono, Amien Rais, Kuntowijoyo, Fuad Amsyarie, dan AM. Saefuddin (hal.124).
Kedua, liberal-radikal. Tipologi ini cenderung menekankan pandangan bahwa ketidakadilan yang terjadi selama ini disebabkan karena adanya struktur sosial yang timpang, baik yang dianut oleh negara maupun individu. Oleh karena itu, meminjam istilah para feminis dunia, kaum intelektual liberal-radikal mempopulerkan idiom personal is political. Diakui atau tidak, meski idiom ini bukan satu-satunya prinsip yang dijadikan pegangan oleh intelektual liberal-radikal, tetapi setidaknya mereka telah membantu memberikan proses penyadaran pada masyarakat agar mau berpartisipasi dalam melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan (hal. 131). Mereka yang tergabung dalam tipologi ini seperti Budi Munawar Rachman, Nasaruddin Umar, dan Ruhaini Dzuhayatin.
Ketiga, liberal-moderat. Tipologi ini sebenarnya merupakan generasi baru dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia, yang merupakan kelanjutan dari cita-cita Islam neo-modernis Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Wahib. Jika ditelisik secara detail, tipe ini cenderung dekat dengan tradisi filsafat perenial (perenial philoshopy) dalam mengakaji agama-agama. Yakni, intelektual model ini cenderung memahami dan mendekati agama dalam hal-hal yang bersifat substansial, seperti halnya merunut hal-hal universal melalui pendekatan apresiatif terhadap partikularitas bentuk agama yang telah diwahyukan Tuhan dalam rentangan sejarah. Mereka umumnya berasal dari kalangan akademisi muda, baik dari anak muda NU maupun Muhammadiyah. Dari kalangan muda NU, misalnya Ulil Abshar Abdalla, dan Moqsith Ghazali. Sementara dari kalangan Muhammadiyah, seperti Amin Abdullah, Abdul Munir Mulkhan dan Komaruddin Hidayat.
Keempat, liberal-transformatif. Prinsip tipologi ini adalah mencoba mempertanyakan kembali paradigma mainstream yang ada dan ideologi yang tersembunyi didalamnya, sekaligus berusaha menemukan paradigma alternatif yang diharapkan mampu mengubah struktur dan superstruktur yang menindas rakyat serta membuka kemungkinan bagi rakyat untuk mewujudkan potensi kemanusiaannya.
Dari sini, bisa ditarik benang merah bahwa studi Islam Liberal di Indonesia antara tahun 1991-2002 yang diteliti oleh Zuly Qodir ini sangat berharga sekali bagi para akademisi dan khalayak umum, karena ia telah mampu memotret pergerakan Islam liberal secara gamblang dan terperinci hingga pada level variannya. Namun, bagi saya buku ini tentu bukan karya final yang harus “diamini” oleh semua generasi, karena bisa jadi untuk konteks masa depan, studi ini menjadi kurang relevan -untuk tidak mengatakan usang- untuk diperbincangkan kembali, mengingat paras keberagamaan pemikiran Islam selalu berkembang dan berubah seiring perubahan ruang dan waktu.
Peresensi adalah Ammar Machmud, penikmat buku, Alumnus IAIN Walisongo Semarang
Penerbit : LKIS
Tahun : 2010
Kota : Yogyakarta
Jenis kertas : HVS
Kategori : Kajian Keislaman
Tebal : 310 hal
Ukuran : 15 x 21 cm
Harga : 60.000
Pada beberapa dekade terakhir ini, gerakan pemikiran Islam Indonesia telah mengalami perubahan dan perkembangan yang cukup signifikan. Ini dibuktikan dengan banyaknya karya ilmiah yang ditulis oleh para ilmuwan dan peneliti, baik dari kalangan Indonesia sendiri maupun dari luar. Namun, diantara gerakan pemikiran Islam Indonesia yang paling mendapat sorotan tajam dari pelbagai lapisan masyarakat adalah gerakan Islam liberal.
Seperti jamak diketahui, isu Islam liberal merupakan isu “seksi” sekaligus kontroversi. Isu ini dibilang “seksi”, karena para pegiatnya mampu memberikan stimulus pada masyarakat Indonesia agar senantiasa berpikir kritis dalam memahami teks-teks keagamaan yang ada. Dan, dibilang kontroversi, lantaran gerakan pemikiran Islam liberal ini senantiasa membuat “fatwa-fatwa” kontroversial dalam memahami dan menafsirkan teks-teks keagamaan yang ada.
Konon, isu ini sengaja dihadirkan para intelektual muslim Indonesia dalam rangka untuk membaca, memahami, sekaligus menyegarkan kembali pemikiran masyarakat Islam Indonesia yang telah lama ‘tidur pulas’, karena terlalu “mengimani” teks-teks keagamaan yang ada. Sehingga akibatnya taklid buta dan fanatisme pun tak bisa dihindarkan lagi.
Oleh karena itu, hadirnya buku berjudul Islam Liberal, Varian-varian Liberalisme Islam di Indonesia 1991-2002 yang ditulis oleh Zuly Qodir ini hendak “membongkar” paradigma muslim Indonesia yang masih cenderung literalis-konservatif. Selain itu, lewat buku ini, Zuly juga ingin mendedahkan fenomena muncul dan berkembangnya gerakan pemikiran Islam Liberal di Indonesia dalam rentangan waktu antara tahun 1991-2002.
Lebih lanjut, dalam menganalisa data terkait gerakan pemikiran Islam Liberal di Indonesia, Zuly menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan sebagaimana yang telah dipopulerkan Peter L. Berger dan Thomas Luchman. Pendekatan ini dipilih karena lebih pas dan cocok dalam menekuni hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial dimana pemikiran itu timbul (hal. 15).
Varian Islam Liberal
Secara lebih khusus, dalam buku ini, Zuly Qodir mengelaborasi ihwal tipologi Islam Liberal di Indonesia yang terbagi atas empat varian, yakni liberal-progresif, liberal-radikal, liberal-moderat, dan liberal transformatif.
Pertama, liberal-progresif. Tipologi ini cenderung merujuk pada perhatian intelektual muslim terhadap kondisi kultural yang ada, baik dalam bidang politik, keagamaan, keadilan sosial, keadilan gender, dan pluralisme. Sehingga, tipologi ini bisa dikatakan sebagai representasi dari aktor-aktor Islam yang pernah merasakan betapa gelapnya masa depan Islam Indonesia, ketika kondisi negara kian bergejolak dan represif terhadap umat Islam. Adapun tokoh-tokoh yang masuk dalam kategori ini adalah Imaduddin Abdurrahim, Adi Sasono, Amien Rais, Kuntowijoyo, Fuad Amsyarie, dan AM. Saefuddin (hal.124).
Kedua, liberal-radikal. Tipologi ini cenderung menekankan pandangan bahwa ketidakadilan yang terjadi selama ini disebabkan karena adanya struktur sosial yang timpang, baik yang dianut oleh negara maupun individu. Oleh karena itu, meminjam istilah para feminis dunia, kaum intelektual liberal-radikal mempopulerkan idiom personal is political. Diakui atau tidak, meski idiom ini bukan satu-satunya prinsip yang dijadikan pegangan oleh intelektual liberal-radikal, tetapi setidaknya mereka telah membantu memberikan proses penyadaran pada masyarakat agar mau berpartisipasi dalam melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan (hal. 131). Mereka yang tergabung dalam tipologi ini seperti Budi Munawar Rachman, Nasaruddin Umar, dan Ruhaini Dzuhayatin.
Ketiga, liberal-moderat. Tipologi ini sebenarnya merupakan generasi baru dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia, yang merupakan kelanjutan dari cita-cita Islam neo-modernis Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Wahib. Jika ditelisik secara detail, tipe ini cenderung dekat dengan tradisi filsafat perenial (perenial philoshopy) dalam mengakaji agama-agama. Yakni, intelektual model ini cenderung memahami dan mendekati agama dalam hal-hal yang bersifat substansial, seperti halnya merunut hal-hal universal melalui pendekatan apresiatif terhadap partikularitas bentuk agama yang telah diwahyukan Tuhan dalam rentangan sejarah. Mereka umumnya berasal dari kalangan akademisi muda, baik dari anak muda NU maupun Muhammadiyah. Dari kalangan muda NU, misalnya Ulil Abshar Abdalla, dan Moqsith Ghazali. Sementara dari kalangan Muhammadiyah, seperti Amin Abdullah, Abdul Munir Mulkhan dan Komaruddin Hidayat.
Keempat, liberal-transformatif. Prinsip tipologi ini adalah mencoba mempertanyakan kembali paradigma mainstream yang ada dan ideologi yang tersembunyi didalamnya, sekaligus berusaha menemukan paradigma alternatif yang diharapkan mampu mengubah struktur dan superstruktur yang menindas rakyat serta membuka kemungkinan bagi rakyat untuk mewujudkan potensi kemanusiaannya.
Dari sini, bisa ditarik benang merah bahwa studi Islam Liberal di Indonesia antara tahun 1991-2002 yang diteliti oleh Zuly Qodir ini sangat berharga sekali bagi para akademisi dan khalayak umum, karena ia telah mampu memotret pergerakan Islam liberal secara gamblang dan terperinci hingga pada level variannya. Namun, bagi saya buku ini tentu bukan karya final yang harus “diamini” oleh semua generasi, karena bisa jadi untuk konteks masa depan, studi ini menjadi kurang relevan -untuk tidak mengatakan usang- untuk diperbincangkan kembali, mengingat paras keberagamaan pemikiran Islam selalu berkembang dan berubah seiring perubahan ruang dan waktu.
Peresensi adalah Ammar Machmud, penikmat buku, Alumnus IAIN Walisongo Semarang


