- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Medical Health Online
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Rp 45.000
Add to cart
Spesifikasi Barang :
| Buku | Agama |
| Ukuran Berat | 1 kg |
| Stock | Ready |
| Jenis | Baru / |
| Warna | - |
| Harga | Net |
Ngobrol dengan Gus Dur dari Alam Kubur
Penulis : Argawi Kandito
Pengantar : M. Jadul Maula
Tebal : 180 halaman
Terbit : Cet I, Agustus 2010
Harga : 45.000
Abdurrahman Wahid. Sosok oriental yang unik dalam pemikiran dan tindakannya, sangat menarik untuk objek kajian universal. Meski ia lebih dulu transformasi ke alam lain, warisan spirit dan pikiran-pikirannya tetap kokoh, tidak mudah lenyap tersapu badai zaman. Bahkan semakin meledak dan menciptakan gelombang radiasi pemikiran yang luar biasa. Kompleksitas keilmuannya seperti tiada batas. Buku berjudul “Ngobrol Dengan Gus Dur Dari Alam Kubur” ini, ingin memberi info tentang aktivitas dan pemikiran baru Gus Dur dari alam kubur secara nyata.
Pada hakikatnya, orang yang meninggal atas nama Tuhan, tidaklah ia mati setuhnya. Akan tetapi hanya pindah alam dan ekosistem yang tidak sama. Mereka masih hidup dan mendapat anugerah tak terkira. Sejatinya, alam dunia dan alam kubur masih dalam kesatuan wilayah. Yaitu alam Akherat. Karenanya, mahluk yang hidup antara kedua alam ini, bisa menjalin komunikasi, relasi, dan sekaligus berdiskusi untuk menemukan solusi bagi setiap problematika kehidupan. Seperti di lakukan Argawi Kandito, salah satu orang yang mengerti bagaimana cara dan prosedur “mengontak” arwah orang yang lebih dulu meninggalkan dunia maya ini.
Pasca perpindahan dari dunia fana, para tokoh bangsa yang kini telah mengalami tempat dan waktu berbeda, mereka tidak lepas tangan begitu saja terhadap kondisi bangsanya. Begitu pula ruh Gus Dur, dengan daya komunikasinya yang mumpuni, ia tanpa henti bersafari dan menjelajah tokoh-tokoh nasional bakan dunia, untuk menimba ilmu dan pengatahuan secara de facto. Menurut penulis, Gus Dur di alam kubur telah banyak bertemu dan berdiskusi dengan tokoh dunia, seperti Plato, Aristotels, Syaikh Abd al Qodir al Jailani, Sunan Kalijaga dan lain sebagainya.
Sedikit mengejutkan tentang aktivitas mereka, selain membahas bagaimana beradaptasi dan tata cara hidup di alam baru (alam kubur), para founding fathers bangsa ini, masih aktif berpikir tentang keadaan dan upaya memperbaiki kehidupan dan kemajuan bangsa secara komprehensif. Dalam impementasi pemikirannya, pengetahuan baru hasil diskusi dari “ruang kubur”, kemudian ditransfer ke alam dunia melalui mimpi kepada seseorang. Atau pada mereka yang “mengontak” untuk diajarkan tentang beberapa hal. Proses ini merupakan sebuah justifikasi. Bahwa salah satu sumber ilmu adalah wahyu. Tapi, wahyu dalam bentuk ilham yang termanifestasi dalam mimpi.
Ihwal pemikiran, Gus Dur mengakui semua pemikiran di dunia ini menarik. Tapi ketika ditanya Penulis ”Pemikiran siapa yang anda ikuti, Gus”, beliau jawab “Ya saya sendiri”. Gus Dur tidak mau dibilang mengikuti aliran pemikiran tertentu. Ia telah membuat paradigma pemikiran yang orisinil. Hasil perenungan dan pengalaman dari berbagai aliran dan tempat diseluruh dunia. Tetapi, warna yang paling cerah dari pemikirannya adalah menjunjung tinggi pluralisme dan membela kaum minoritas.
Gus Dur juga melakukan pembacaan secara “gaib” terhadap kondisi Bangsa Indonesia. Menurutnya, rakyat kecil selalu sengsara berlarut-larut dalam keterpurkan, karena dibohongi oleh pemerintahnya sendiri. Pemerintah yang sekarang menjabat, cenderung mementingkan pribadi dan kelompok sendiri. Terbukti, ketika harus menjalankan kepentingan negara, mereka lebih banyak mencuri keuntungan dari kepentingan itu. Dari alam kubur ia mendidik manusia yang hidup di dunia, untuk selalu menjaga keseimbangan dan berlaku adil.***
Penulis : Argawi Kandito
Pengantar : M. Jadul Maula
Tebal : 180 halaman
Terbit : Cet I, Agustus 2010
Harga : 45.000
Abdurrahman Wahid. Sosok oriental yang unik dalam pemikiran dan tindakannya, sangat menarik untuk objek kajian universal. Meski ia lebih dulu transformasi ke alam lain, warisan spirit dan pikiran-pikirannya tetap kokoh, tidak mudah lenyap tersapu badai zaman. Bahkan semakin meledak dan menciptakan gelombang radiasi pemikiran yang luar biasa. Kompleksitas keilmuannya seperti tiada batas. Buku berjudul “Ngobrol Dengan Gus Dur Dari Alam Kubur” ini, ingin memberi info tentang aktivitas dan pemikiran baru Gus Dur dari alam kubur secara nyata.
Pada hakikatnya, orang yang meninggal atas nama Tuhan, tidaklah ia mati setuhnya. Akan tetapi hanya pindah alam dan ekosistem yang tidak sama. Mereka masih hidup dan mendapat anugerah tak terkira. Sejatinya, alam dunia dan alam kubur masih dalam kesatuan wilayah. Yaitu alam Akherat. Karenanya, mahluk yang hidup antara kedua alam ini, bisa menjalin komunikasi, relasi, dan sekaligus berdiskusi untuk menemukan solusi bagi setiap problematika kehidupan. Seperti di lakukan Argawi Kandito, salah satu orang yang mengerti bagaimana cara dan prosedur “mengontak” arwah orang yang lebih dulu meninggalkan dunia maya ini.
Pasca perpindahan dari dunia fana, para tokoh bangsa yang kini telah mengalami tempat dan waktu berbeda, mereka tidak lepas tangan begitu saja terhadap kondisi bangsanya. Begitu pula ruh Gus Dur, dengan daya komunikasinya yang mumpuni, ia tanpa henti bersafari dan menjelajah tokoh-tokoh nasional bakan dunia, untuk menimba ilmu dan pengatahuan secara de facto. Menurut penulis, Gus Dur di alam kubur telah banyak bertemu dan berdiskusi dengan tokoh dunia, seperti Plato, Aristotels, Syaikh Abd al Qodir al Jailani, Sunan Kalijaga dan lain sebagainya.
Sedikit mengejutkan tentang aktivitas mereka, selain membahas bagaimana beradaptasi dan tata cara hidup di alam baru (alam kubur), para founding fathers bangsa ini, masih aktif berpikir tentang keadaan dan upaya memperbaiki kehidupan dan kemajuan bangsa secara komprehensif. Dalam impementasi pemikirannya, pengetahuan baru hasil diskusi dari “ruang kubur”, kemudian ditransfer ke alam dunia melalui mimpi kepada seseorang. Atau pada mereka yang “mengontak” untuk diajarkan tentang beberapa hal. Proses ini merupakan sebuah justifikasi. Bahwa salah satu sumber ilmu adalah wahyu. Tapi, wahyu dalam bentuk ilham yang termanifestasi dalam mimpi.
Ihwal pemikiran, Gus Dur mengakui semua pemikiran di dunia ini menarik. Tapi ketika ditanya Penulis ”Pemikiran siapa yang anda ikuti, Gus”, beliau jawab “Ya saya sendiri”. Gus Dur tidak mau dibilang mengikuti aliran pemikiran tertentu. Ia telah membuat paradigma pemikiran yang orisinil. Hasil perenungan dan pengalaman dari berbagai aliran dan tempat diseluruh dunia. Tetapi, warna yang paling cerah dari pemikirannya adalah menjunjung tinggi pluralisme dan membela kaum minoritas.
Gus Dur juga melakukan pembacaan secara “gaib” terhadap kondisi Bangsa Indonesia. Menurutnya, rakyat kecil selalu sengsara berlarut-larut dalam keterpurkan, karena dibohongi oleh pemerintahnya sendiri. Pemerintah yang sekarang menjabat, cenderung mementingkan pribadi dan kelompok sendiri. Terbukti, ketika harus menjalankan kepentingan negara, mereka lebih banyak mencuri keuntungan dari kepentingan itu. Dari alam kubur ia mendidik manusia yang hidup di dunia, untuk selalu menjaga keseimbangan dan berlaku adil.***

